Realisasi Retribusi TPI Mimika Capai Rp 254 Juta, Kadis Perikanan: Itu Sudah Melebihi Target

Kepala Dinas Perikanan Antonius Welerubun.

Timika – Tabaos14 | Realisasi retribusi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Poumako oleh Dinas Perikanan Mimika per akhir Juni 2022 telah terpacai sebanyak Rp 254 juta.

Kepala Dinas Perikanan, Antonius Welerubun saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (19/7/2022) mengatakan bahwa jumlah besaran tersebut telah melampaui target yang ditetapkan.

“Sampai 30 Juni kemarin itu sudah Rp 254 juta dari target Rp 200 juta. Jadi sudah melebihi target kita,”katanya.

Pemungutan tarif retribusi ini, kata Anton, merupakan kewenangan dari Dinas Perikanan Mimika sesuai dengan Perda nomor 7 tahun 2020.

“Jadi memang 200 juta itu target kita untuk tahun ini. Tapi biasanya kalau ada peningkatan seperti ini, target itu akan berubah atau ditambahkan di anggaran perubahan,” jelasnya

Diterangkan lebih lanjut bahwa nilai tarif yang dikenakan dalam pelelangan terbuka adalah 2,5 persen dari harga jual.

“2,5 persen itu pembagiannya 1,5 persen dibebankan ke pembeli ikan dan 1 persennya ke si penjual ikan atau nelayannya,” terangnya.

“Berbeda dengan yang kita sebut pelelangan tertutup, itu untuk kapal yang tidak berlabuh. Artinya supaya ada pemasukan juga ke daerah dari mereka yang tidak melakukan lelang. Itu kita kenakan tarif 0,5 persen dari harga jual,” imbuhnya.

Sebagai mana dikatakan untuk harga tarif satu kapal biasanya paling murah itu Rp 400 ribu dan paling mahal sekitar Rp 900 ribu per kontainer.

“Itu juga tergantung jenis ikannya, yang murah seperti ikan manyun, duri, dan sebagainya. Sementara yang mahal itu kaya ikan lema, kakap merah, udang, dan lainnya itu bisa sampai Rp 900 ribu lebih,” kata Anton.

Dari pengamatan Anton, sampai dengan saat ini masih terdapat sebagain pengusaha yang belum memiliki kesadaran untuk membayar retribusi tersebut.

“Pengusaha ini kan ada yang mau untung sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya. Jadi kalau dibilang mereka ada kesadaran, saya rasa belum semuanya,” ucapnya.

“Artinya kalau kita tidak lihat, itu masih ada yang nakal juga. Mungkin sekitar 50 persen yang sudah punya kesadaran untuk bayar retribusi ini,” tutur Anton melanjutkan.

Untuk diketahui program pelelangan ikan ini baru berjalan sejak November tahun 2021. Di dua bulan terakhir tahun itu, pemasukan dari pelelangan berhasil mencapai Rp 150-an juta.

“Pada saat itu memang kita belum kasih target karena sisa dua bulan jadi kita anggap saja itu percobaan,” tandasnya.

Di samping pencapaian ini, Anton mengakui masih ada banyak hal yang perlu dikembangkan untuk lebih meningkatkan PAD dari program pelelangan ini.

“Sejauh ini kita masih kekurangan petugas karena satu kapal itu kalau bongkar bisa memakan waktu 24 jam. Sedangkan petugas kita hanya 11 orang. Dan itu mereka tidak hanya urus TPI, karena di bawah kan ada pasar. Kita kan kompleks industri, jadi mereka urus itu juga. Makanya kita sangat butuh tenaga,” ujarnya.

“Seperti kalau lagi musim penuh, itu yang masuk bisa 5 kapal. Satu petugas naik jaga kapal dalam satu hari penuh baru turun. Karena kalau tidak dijaga kita bisa kecolongan jumlah kontainer,” pungkasnya.

Pos terkait