Perjuangan Melawan Covid-19 di Mimika

Semua Pihak Lelah Tapi Kita Masih Belum Mulai

PERJUANGAN melawan wabah Corona Virus Deease 2019 atau Covid-19 di Kabupaten Mimika yang dimulai sejak, Rabu (18 Maret 2020) oleh semua pihak seperti masyarakat, pemerintah, dan petugas lini depan yang langsung harus berhadapan dalam praksis pengendalian yang dipimpin Tim Gugus Tugas Percepatan Pengendalian (TGTPP) berdasarkan SK Bupati Mimika Nomor: 158 Tahun 2020 yang mempercayakan Pelaksana Tugas ((Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra sebagai Ketua Tim sekaligus sebagai Juru Bicara Covid-19 di Kabupaten Mimika memang sudah terasa melelahkan.

“Tapi ini semua belum kita mulai, meski kita sudah berupaya sejauh ini untuk melakukan upaya-upaya pengendaliannya melalui pencegahan untuk memastikan adanya Orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasa (PDP) di Kabupaten Mimika,” kata Juru Bicara, Reynold Ubra dalam diskusi lepas usai pertemuan persnya, Kamis (26/03) di Sekretariat Tim, Jalan Cenderawasih Timika Jaya SP2 – Timika.

Mengapa melelahkan? Mengingat sejak digiatkannya upaya pengendalian di hari pertama, Kamis (18/03) hingga Kamis (26/03) atau hari ke delapan, tak sedikit indikasi kelelahan semua pihak ini yang bisa disaksikan bersama.

Dimulai dari pemerintah yang menaungi Tim dalam menghadapi berbagai informasi dan kejadian yang benar maupun yang bersifat HOAX (Tidak benar alias Bohong-red) hingga dibentuknya TiGTPP dan ditemukannya kasus ODP yang diubah menjadi PDP agar dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium di hari ke-6, Selasa (24/03).

 

Bahkan hingga hari ini, Jumat (27/03) baru bisa dilakukannya upaya sosialisasi serentak seperti dijelaskan Ubra dalam jumpa persnya, Kamis (26/03).

“Hari ini adalah tahapan untuk melakukan sosialisasi sekaligus penertiban yang dilakukan Tim Kepolisian (Polsek) yang dilakukan dengan pola Patroli Dialogis di seputar keramaian pada pusat Kota Timika.

 

Termasuk aksi Forum Kerjasama Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika yang merespon Instruksi Bupati Nomor 1 Tahun 2020 Tanggal 25 Maret 2020 dengan pembentukan empat gugus tugas untuk wilayah Paomako, Timika Kota, Kwamki Narama dan Limau Asri SP5.,” ungkap Ubra.

FKUB Mimika siap dengan upaya sosialisasinya untuk mendapatkan dukungan dari Tokoh Agama dan warga umat beragam terhadap instruksi bupati bisa diterapkan. Untuk itu, juga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mimika sudah mengeluarkan maklumat untuk meniadakan sholat berjamaah untuk beberapa minggu ke depan. Bahkan di lingkunga Gereja Katolik dan Protestan, khususnya GKI Klasis Mimika melakukan upaya yang sama.

Upaya yang sama juga dilakukan Puskesmas bersama Tim Gugus untuk mensosialisasikan Instruksi ini ke wilayah pesisir mulai hari ini, Jumat (27/03).

Distrik Mimika Baru dan Dinas Koperasi pun bahkan diperintahkan untuk mengunjungi Kampung Nayaro, dalam aksi sosialisasi termasuk melakukan pembatasan agar masyarakat tidak masuk Kota Timika. Hal itu tentunya akan dibarengi dengan upaya-upaya konsekuensi penyiapan sembakao dan penggantian hasil bumi yang biasanya dibawa ke Kota Timika untuk dijual oleh warga Kampung Nayaro.

“Itu yang akan dibantu Dinas Koperasi dan UMKM untuk melaksanakannya,” kata Ubra.

Upaya lainnya juga melaksanakan simulasi mulai, Sabtu (28/03) dengan dua skenario untuk situasi jika ditemukan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), bagaimana merujuknya dan sektor apa saja yang akan terlibat dalam proses itu. Juga, jika ada ODP yang ditemukan itu, bagaimana akan dievakuasi untuk ke tempat yang telah disiapkan pemerintah.

“Simulasi ini sangat penting agar, jika benar terjadi kasus dapat dilakukan upaya penanganan terpadu penyelamatannya. Terutama sejak ditemukan terdeteksi sebagai PDP maupun ODP, hingga ke pelaksanaan treatment (perlakuan tindakan-red) bahkan hingga ke proses isolasi (Karatina)-nya,” jelas Ubra.

 

Dalam kesempatan itu, Ubra juga menyampaikan hasil pemeriksaaan yang sudah dirujuk dua kali ke Jayapura dari satu pasien yang ditemukan, sampai hari ini masih dinantikan penyampaikan dari Tim Gugus Provinsi Papua.

“Saya juga berharap dalam hari ini atau mungkin minggu ini sudah bisa disampaikan kepada public, dan sebagaimana mekanismenya karena sampel ini dikirim ke Jayapura maka yang akan menjawab itu adalah Tim Gugus Provinsi melalui Juru Bicara Dinas kesehatan Provinsi Papua, DR. Silwanus Sumule,” kata Ubra.

 

Sampai hari Kamis kemarin, Ketua TGTPP sekaligus Juru Bicara Pengendalian Covid-19, Reynol Ubra menegaskan bahwa, untuk kasus ODP maupun PDP di Kabupaten Mimika ini belum dapat ditegaskannya secara pasti.

Alasannya, karena ada kriteria yang memang harus ditetapkan terutama dalam menggali faktor resiko. “Jadi dari data terakhir dari 32 Fasilitas Kesehatan di Mimika belum ada penemuan baru soal Covid-19 ini. Namun, jika sudah ada kita sudah bersepakat untuk menetapkan yang ODP akan segera kami sampaikan,” janjinya. Meskipun hingga, Jumat (27/03) malam, juga tak kunjung ada informasi hasil dimaksudkan.

 

Persoalan muncul di lapangan tatkala, pihak lini depan lainnya seperti wartawan yang mendapati fakta lapangan mengenai kondisi upaya pengendalian wabah ini pada beberapa titik fasilitas kesehatan, misalnya seperti yang dijumpai hari ini, Jumat (27/03) di Puskesmas Timika maupun Puskesmas Kwamki Narama.

Bahwa ada pasien yang sadar untuk melaporkan kondisinya karena baru datang dari daerah terpapar Covid-19, namun tak sempat mendapatkan pelayanan maksimal. Itu bukan karena ketidakmampuan perawat atau tim medis sebagai lini depan pengendalian, tetapi lebih pada kurang terjadinya komunikasi yang harmonis dalam upaya-upaya yang dilakukan bersama.

Misalnya saja soal, adanya kondisi dimana Pasien yang datang di Puskesmas Timika yang menceritakan kondisinya. Termasuk mengalami panas dan mual serta sesak nafas yang harusnya bisa segera dirujuk ke RSUD Timika. Namun, upaya itu harus gagal hanya karena tidak terjadinya komunikasi intensif antara garda lini depan di Fasilitas kesehatan Puskesmas dan RSUD atau dengan pihak TGTPP Covid-19 Mimika.

Wartawan pun mulai menduga apa yang sementara terjadi dalam semua upaya pengendalian Covid-19 di Mimika ini, apakah masyarakat harus menantikan hasil akhir yang memiliki kebenaran medis dari pihak TGTPP saja. Ataukah, masyarakat dapat pula berasumsi dari setiap kondisi lapangan seperti yang dialami tim medis di Puskesmas Timika.

Perawat  segala seperti terkesan ketakutan menghadapi fakta adanya pasien dengan tanda-tanda Covid-19. Bahkan penjelasan keterbatasan yang dimiliki sebagai garda terdepan pun, dilakukan sambil tersedu dan menetaskan air mata tanda kesedihannya mengalami semua yang dihadapinya di lapangan dengan apa adanya yang dirasa memprihatinkan dan menakutkan.

“Kami ini manusia dan punya keluarga juga, kami juga ketakutan! Kami tidak minta upah yang besar tetapi tolong siapkan kami alat pelindung diri yang memadai karena saat saya sampakian kepada para perawat disini bahwa, jika ada satu saja Pasien positif Corona maka kita ini akan ada 24 jam di Puskesmas ini,” ucap kepala Puskesmas Timika, Maria Yosinta Rahangiar.

Ubra menjelaskan bahwa, untuk pengendalian Covid-19 di Mimika, telah diajukan penganggaran re-alokasi untuk semua dinas yang terlibat dalam TGTPP ini sekitar Rp160 Miliar. Tentu saja itu semua juga berdasarkan aturan perundang-undangan yang mengaturnya.

Para pekerja pers-pun mulai mengindikasikan keselamatannya, terutama dengan menyarankan TGTPP berkenan menyikapi penyampaian informasi secara cepat untuk konsumsi publik. Bahkan dengan model pertemuan pers ataupun Pers Release yang memanfaatkan teknologi komunikasi relevan, untungnya saran usul inipun dipertimbangkan TGTPP sebagai hal penting yang siap dilaksanakan.

 

Mengingat, tidak hanya setiap sore jika siap dilakukan penyampaian pers oleh TGTPP Covid-19 Mimika. Dalam proses melaksanakan peliputan, wartawan kini berada dalam ancaman keterpaparan Covid-19 seperti yang juga sudah dialami sejumlah jurnalis lainnya diluar Papua ini.

Semuanya ini masih belum dimulai, menurut prediksinya, karena Mimika baru saja melakukan pembatasan mobilisasi dan ini baru akan mulai kelihatan. Mudah-mudahan semua dikuatkan untuk melaksanakan perjuangan melawan Covid-19 ini.

“Kita belum mulai berperang,” ingat Ubra. (Sam Nussy)

 

Pos terkait