Pendiri Lemasa dan Amungme Naisorei Tolak Panitia Musdatlub Bentukan Odizeus

Foto: Mercy/Tabaos14 Cap foto: foto bersama pendiri Lemasa, Amungme Naisorei dan Direktur Lemasa saat mengelar jumpa pers.
Foto: Mercy/Tabaos14 Cap foto: foto bersama pendiri Lemasa, Amungme Naisorei dan Direktur Lemasa saat mengelar jumpa pers.

TIMIKA – Tabaos14 | Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA) menilai pertemuan pembentukan Panitia Musyawarah Adat Luar Biasa (Musdatlub) suku Amungme yang dilakukan oleh pihak Odizeus tanggal 8 Februari kemarin di Hotel dan Resto Cendrawasih 66 tidak memiliki dasar hukum, setelah diberhentikan oleh pendiri Lemasa dan Amungme Naisorei tanggal 14 November 2019 lalu.

Direktur Lemasa Stingal Johnny Beanal mengatakan, ” Tanggal 8 Februari lalu pihak Odizeus melakukan pembentukan Panitia Musdatlub tidak sah.”

Atas dasar apa pihak Odi melaksanakan pembentukan Panitia sedangkan tanggal 14 November 2019 lalu para pendiri LEMASA, Komisaris Lemasa dan Amungme Naisorei telah memberhentikannya sebagai Direktur Lemasa. Artinya dengan diberhentikan maka pihak Odi tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pertemuan yang mengatas namakan Lemasa.

“Odizeus beliau sudah diberhentikan oleh badan pendiri, Amungme Naisorei tanggal 14 november lalu, jadi segala tugas kewenangan secara resmi sudah tidak berlaku, tapi dia masih mengatakan diri sebagai direktur dan membuat kelompok dimana-mana dan melibatkan masyarakat, Tokoh-Tokoh lain diluar dari Lemasa yaitu Amungme Naisorei dan Badan Pendiri,” kata Stingal Johnny saat menggelar jumpa pers di Kuala Oriental Jalan Budi Utomo, Senin (10/2).

Ia menjelaskan proses pemberhentian Odizeus Beanal berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga pasal 9 ayat 2 tentang kepengurusan yang mana pasal tersebut berbunyi “anggota pengurus dipilih jangka waktu 5 tahun dan ditetapkan oleh Badan Pendiri dan dapat diberhentikan oleh Badan Pendiri”.

“Proses pemberhentian Direktur Lemasa berdasarkan AD/ART Lemasa pasal 9 ayat 2 tentang pengurus,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Badan Pendiri Lemasa Yohanis Kasamol, SE mengatakan, seorang Direktur merupakan Ketua Harian dalam Lembaga Adat yang mana pihak yang memiliki posisi tertinggi didalam sebuah lembaga adat ialah Dewan Adat.
Ia menjelaskan, seseorang yang diangkat dan diberhentikan didalam sebuah organisasi merupakan hal yang wajar, namun berbeda jika diangkat dan diberhentikan dengan tidak hormat karena memiliki kesalahan, berarti ada sesuatu yang dibuat melanggar aturan yang berlaku didalam sebuah organisasi.

“Pengangkatan dan Pemberhentian itu adalah hal yang lumrah untuk setiap organisasi, tapi berbeda jika diberhentikan karena ada masalah,” kata Kasamol.

Terhitung sejak tanggal 14 November 2019, Odizeus Beanal tidak lagi menjadi Direktur Lemasa, oleh sebab itu pihak Odi tidak harus melakukan kegiatan yang mengatas namakan Lemasa, setelah dirinya menggugat pendiri lemasa, Amungme Naisorei dan komisaris Lemasa ke PN Timika, karena proses hukum tersebut masih berjalan.

“Sehingga diatas tanggal 14 November apa yang sedang terjadi dan dilakukan oleh Odi, yang pertama menggugat badan pendiri bersama komisaris bersama ketua dan wakil ketua Amungme Naisorei dan itu sampai di pengadilan, dan hal ini belum diproses dan di selesaikan, kalau memang hal ini belum diselesaikan maka saudara Odi kalau memang benar seorang intelektual maka dia tidak melakukan satu kesalahan lagi bahwa sementara menggugat badan pendiri komisaris dan amungme naisorei kemudian di lakukan kegiatan manuver yang lain,” ungkapnya.

Sementara itu Komisaris Lemasa Yoseph Yopi Kilangin mengatakan, pasca diberhentikan akhir tahun lalu, Odizeus tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pertemuan atau kegiatan mengatasnamakan Lemasa, sehingga pertemuan dengan agenda pembentukan Panitia Musdatlub dinilai salah dan membuat bingung masyarakat.

“Setelah diberhentikan, dia tidak berwenang melakukan itu, dia menggunakan atribut dan jabatan itu bukan sebagai orang Lemasa, jadi kalau dia melakukan menunjukan terhadap panitia yang dia bentuk itu bukanlah sesuatu yang benar dan menurut saya itu sangat membingungkan masyarakat,” ungkapnya.

Rilis yang dikeluarkan Komisaris Lemasa, pendiri Lemasa dan Amungme Naisorei menolak pengangkatan ketua panitia Musdatlub suku Amungme saat dilakukan pertemuan oleh beberapa oknum yang diundang oleh Odizeus Beanal yang mengatasnamakan Lemasa 8 Februari lalu di hotel 66.

Yang mana terdapat 11 point, diantaranya, Musyawarah Adat adalah forum evaluasi dan forum pengambilan keputusan tertinggi di tingkat suku dan diatur didalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga LEMASA.Badan pendiri Lemasa dan Amungme Naisorei memiliki kewenangan secara hukum untuk memutuskan pelaksanaan Musdat dan berhak mengangkat Panitia Pelaksana Musdat, Direktur Eksekutif sebagai Ketua Badan Pengurus tidak memiliki kewenangan secara hukum untuk mengangkat panitia pelaksana Musdat suku Amungme, saudara Odizeus selaku penyelenggara rapat dimaksud tidak memiliki legal standing (dasar hukum) untuk menyelenggarakan rapat yang mengatasnamakan Lemasa.

Didalam point tersebut juga menegaskan bahwa saudara odizeus beanal telah diberhentikan dari jabatannya sebagai direktur eksekutif lemasa sejak tanggal 14 november 2019 dalam Rapat Istimewa Badan Pendiri dan Amungme Naisorei, atas perbuatan penyalahgunaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Direktur Eksekutif Lemasa selama 4 tahun, dan mengangkat Stingal Jhonny Beanal sebagai Direktur Eksekutif Lemasa, dengan demikian Odizeus Beanal tidak memiliki dasar hukum untuk menggunakan atribut Lemasa, dan menghargai proses hukum yang diajukan di PN TImika, dan pengangkatan Ketua Panitia Musdatlub adalah sebuah pelanggaran. (Mrc)

Pos terkait