Papua Berduka Atas Meninggalnya Andy Ayamiseba

  • Whatsapp

Almarhum Andy Ayamiseba dalam kesibukannya di dunia politik saat usia senja yang bersemangat. (Foto: Istimewa)

 

Bacaan Lainnya

TANAH PAPUA – Tabaos14    I     Hari ini, Jumat (21/02) sekitar pukul 17.00 Waktu Papua diperoleh informasi dari berbagai sumber, kabar dukacita atas meninggalnya salah satu sosok orang asli Papua, Andy Ayamiseba.

Andy Ayamiseba yang dikenal sebagai manager dan sekaligus pendiri Group Band Legendaris Tanah Papua, Black Brothers. Bahkan diketahui juga sebagai petinggi ULMWP dikabarkan telah meninggal dunia, pada Pukul 04.00 pagi Waktu Canderra Australia di Canberra Australia karena penyakit kanker yang dideritanya.

Beragam ucapan dukacita pun disaksikan bermunculan di media sosial, untuk mengenang sosok Papua yang juga mendapatkan perhatian serius oleh hampir semua generasi Tanah Papua.

Dari berbagai Sumber juga dipahami, kalau hampir setiap orang di Tanah Papua ini pasti tahu Group Legendaris Black Brothers. Almarhum, Andy Ajamiseba adalah Tokoh dari berdirinya Group band Legenda diatas Tanah Papua itu.

Mendengar nama Andy Ayamiseba, pikiran orang tentu akan langsung berusaha memutar balik kembali ingatannya tentang nostalgia grup musik Papua, Black Brothers. Grup band ini begitu sangat terkenal di era 70-an dengan lagunya “Mutiara Hitam” dan “Kisah Seorang Pramuria”, bahkan beberapa lagu dari Black Brothers masih terus populer di kalangan kaula muda masa kini.

Dibalik nama besar Black Brothers yang konon mempunyai rating tinggi di blantika musik Indonesia era 70-an ini, Almarhum Andy Ayamiseba adalah seorang seniman sekaligus Pilot group band yang dikagumi ini. Andy Ayamiseba, seorang manejer sekaligus pelopor terbentuknya grup band Black Brothers yang sebelumnya bernama Iriantos, memang memberikan pengaruh yang luarbiasa bagi generasi Papua.

Bersama rekan-rekannya seprofesi seperti Agus Rumaropen (vokal), Sandhy Betay (vokal), Marthy Messet (lead vocal), Hengky Merantoni (lead guitar), Benny Betay (bass), Jochie Phiu (keyboard), Amry Tess (trompet), Stevie MR (drums), dan David (saxophone). Nama sosok Almarhum, Andy Ayamiseba terus dikenang meski sejak sekian waktu hidup diluar negeri hingga kembali ke rumah Bapa Surgawi, di hari ini.

Andy Mayamiseba lahir di Kota Biak, 21 April 1947. Ayah-nya,  Dirk Ayamiseba (Asli Papua) dan Ibunya bernama Dolfina Tan Ayomi (Keturunan Tionghoa). Ayahnya pernah menjadi Gubernur pertama di Papua dan Ketua DPRD pertama.

Seperti dikutip tabaos14.com dari informasi yang peenah dirilis tabloid Jubi Online.com diketahui bahwa, dimasa jayanya Group Legendaris Black Brothers yang dipimpinnya. Memasuki tahun 1978,  group Black Brothers yang melakukan show-nya di Kota Jayapura dan di PNG (Papua New Guinea). Selanjutnya, memasuki tahun 1980-an, diketahui banyak orang di Papua (Irian jaya kala itu-red) telah meminta suaka (perlindungan) kepada negara Belanda.

Memasuki tahun 1983, group Black Brothers diketahui berpindah ke Vanuatu atas undangan Presiden Vanuatu saat itu, Walter Lini dan Barak Sope. Bahkan dikabarkan juga kalau, Black Brothers ini memang banyak mendukung berdirinya negara-negara Pasifik Selatan melalui seni musik.

Pada tahun 1988, masyarakat Vanuatu melakukan mosi tidak percaya kepada Walter Lini dan kejadian ini juga berdampak kepada Almarhum Andy Ayamiseba yang saat itu diakui sangat dekat sekali dengan Walter. Setelah apa yang dilakukan Almarhum Andy, grup music ini pun tercerai berai. Personilnya ada yang tinggal dan menetap di Vanuatu dan ada sebagian yang tinggal di Australia, bahkan beberapa  diantaranya sudah meninggal di negara orang. Sedangkan, Almarhum Andy sendiri,.. dideportasi (pengasingan) dari negara Vanuatu.

Almarhum Andy yang memiliki ambisius kembali ke Vanuatu pada tahun 1990, setelah namanya dihapus dari daftar imigran terlarang di negara itu.

Almarhum Andy Ayamiseba selanjutnya, jarang lagi berurusan dengan musik karena lebih sering didengar  bergulat dalam politik. Terutama dalam mengajak Pemerintah Vanuatu, untuk mendukung kemerdekaan Papua.

Almarhum Andy, selanjutnya diketahui lebih mengisi hari-harinya dengan bisnis perdagangan eksport-import. Termasuk terus menjalin hubungan dengan organisasi-organisasi pendukung Papua merdeka di Vanuatu.

Bagi sebagian masyarakat yang hadir di Tanah Papua setelah tahun 80-an, memang diakui tak sedemikian akrab dengan nama Andy Ayamiseba. Namun tidak bagi generasi asli Papua sebelum tahun 1980 bahkan hingga saat ini, dapat dipastikan bahwa tak satupun yang tak kenal sosok dan nama, Andy Ayamiseba.

Kini Sang Pejuang itu telah pergi mendahului semua yang masih ada di masa kini,  dan terlebih ada banyak hal yang harusnya dapat dipelajari dari sosok tegar dan tekun ini.

Selamat Jalan Kaka dan Orangtua, Andy Ayamiseba. Selamat memasuki Nirwana dan biarlah kenanganmu terus menjadi contoh baik, bagi semua generasimu di masa kini dan masa depan bagi kemajuan negeri dan Tanah Papua ini. Tuhan menjaga keluarga dan anak cucumu … Amin. (Samone)

  • Whatsapp

Pos terkait