Media Sesalkan Pengusiran Wartawan Oleh Oknum Dosen STIE JB Timika

Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Jambatan Bulan Timika. (Sumber Foto: YouTube Dicky Kristian Chanel)

MIMIKA – Tabaos14   I    TERLALU ironis mendengarkan terjadinya aksi pengusiran beberapa wartawan yang diundang meliput acara wisuda, diusir salah satu oknum dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Jembatan Bulan .

Oknum dosen itu diketahui mengusir dan melarang wartawan SKH Radar Timika, SKH Timika eXpress dan Online media Salam Papua yang akan meliput acara wisuda mahasiwa STIE Jembatan Bulan di gedung Multy Purpose Community Center (MPCC) YPMAK, Kamis (19/03) di Jalan Hadelisari, Timika.

Padahal, wartawan dari ketiga media ini mengakui, kalau sebelumnya mendapat undangan dari panitia wisuda untuk meliputi kegiatan tersebut. Bahkan, ketiganya datang dengan membawa dan menunjukan undangan yang diberikan pihak STIE JB Timika ke kantor media-nya masing-masing.

“Kalian dari mana? Sudah ada konfirmasi untuk merekam ini? Tidak ada kan? Silahkan keluar (sambil menunjukkan pintu keluar dengan kasar). Silahkan keluar. Kalau masih di ruangan, duduk diam tapi jangan merekam,” ujar Santise (wartawan SKH Radar Timika) menirukan kata-kata oknum dosen tersebut.

Sebelum kegiatan dimulai, Santise duduk paling belakang. Ia melakukan hal itu guna menghindari terganggunya kegiatan wisuda. Namun, ketika ingin merekam sambutan, oknum dosen yang sana kembali menghampirinya, membentak dan memarahinya.

Melihat kejadian tersebut, wartawan Indri (SKH Timika eXpress) dan Kristin (online medi Salam Papua) datang menghampiri dan memberikan penjelasan kepada oknum dosen tersebut bahwa, mereka bertiga ditugaskan dari kantor masing-masing untuk datang meliput.

“Kami datang bawa undangan. Kalau tidak diundang panitia untuk liputan, buat apa kami ke sini? Undangan yang masuk ke kantor kami biasanya untuk liputan makanya kami datang,” ungkap wartawan TimeX, Indri.

Namun tetap saja oknum dosen ini menolak dan meminta mereka meninggalkan ruangan MPCC. Alasannya, dalam undangan yang diberikan kepada media, tidak ada tulisan yang menyatakan bahwa wartawan hadir untuk melakukan peliputan.

Menyikapi aksi koboi oknum dosen itu, pimpinan-pimpinan media di Mimika baik cetak, online dan kontributor televisi mengutuk dan mengecam serta menyesalkan terjadinya aksi anarkis oknum dosen itu.

Pemimpin Redaksi (Pimred) Radar Timika, Leonardus Sikteubun mengaku, sangat menyayangkan kejadian tersebut. Pasalnya, pengusiran itu bukan baru pertama terjadi. Kejadian serupa pernah dialami wartawannya, saat STIE JB melakukan wisuda di gedung Eme Neme Yauware beberapa tahun lalu.

Menurut Leo, kejadian ini merupakan kemunduran bagi kebebasan pers di Mimika. Sebab tanpa undangan pun, seharusnya acara wisuda tersebut dapat diakses oleh wartawan.

Sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi di Mimika, STIE JB seharusnya melakukan edukasi yang baik tentang pers. Bukan malah sebaliknya, menjadi lembaga yang anti terhadap pers.

“Ini sangat disayangkan. Sudah beberapa tahun terakhir STIE JB selalu mengusir wartawan saat acara wisuda mereka,” ujarnya.

Leo berpendapat, jika tidak ada yang disembunyikan dari kegiatan tersebut, seharusnya insiden pengusiran tidak perlu terjadi. Alasannya, acara yang juga dihadiri seluruh orang tua wisudawan wisudawati dan tamu undangan lainnya itu, harusnya, wajar jika diliput wartawan.

“Kalau wartawan dilarang meliput, kan akan muncul pertanyaan, ada apa? Kok setiap wisuda selalu terjadi pengusiran. Apa yang disembunyikan dari acara wisuda itu? Lalu untuk apa kalian mengundang kita,” tanya Leo bernada heran.

Bahkan merekam sambutan juga dilarang oleh STIE JB. Ini jelas, akan menjadi pertanyaan. Mengapa sambutan ketua yayasan atau sambutan ketua STIE JB serta Kepala LLDIKTI Wilayah XIV Papua dan Papua Barat harus dilarang untuk direkam dan dikutip.

Sedangkan mengenai undangan yang dikirimkan ke redaksi Radar Timika, menurut Leo, biasanya sepaket dengan permohonan liputan. Sehingga, ketika dirinya menerima undangan itu, secara otomatis mengutus wartawannya untuk meliput. Dalam undangan itu pun, tidak disebutkan bahwa acara wisuda dilarang untuk diliput.

“Biasanya kan begitu. Kalau ada undangan dari instansi mana pun, pasti akan kami liput kegiatannya. Semua sudah tahu itu. Lagian di undangan juga tidak disebutkan bahwa acara wisuda dilarang untuk diliput,” tegasnya.

Pimpinan Redaksi Timika eXpress, Maurits Sadipun mengatakan, tindakan menghalangi, apalagi pengusiran awak media merupakan sebuah pelanggaran besar dan melanggar Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Ia menjelaskan, poin pertama BAB VIII Pasal 18 ketentuan pidana butir (1) menyebutkan setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).

Selain melanggar UU Pers Nomor 40 Tahun 1999, oknum dosen yang berinisial ‘B’ ini juga dinyatakan melanggar Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

“Secara pribadi, saya sangat sayangkan sikap sewenang-wenang dari dia (oknum dosen STIE JB-red) tanpa  koordinasi baik dengan panitia acara. Selain dilarang ambil gambar, wartawan juga tidak diperbolehkan merekam pidato Ketua STIE pada acara tersebut,” ujarnya.

“Ini termasuk kriminalisasi terhadap wartawan. Pejabat sekelas presiden dalam acara tertentu pun tidak demikian sikapnya. Ini harus jadi perhatian publik untuk menghormati profesionalisme wartawan dalam melaksanakan tugas jurnalistik,” tegas Maurits.

Pimpinan Media Online Seputar Papua, Misba Latuapo menyayangkan sikap arogan yang ditunjukan oknum tersebut. Dikatakan, STIE Jembatan Bulan ini merupakan salah satu perguruan tinggi yang diperhitungkan di Mimika, namun ulah dosen ini tidak mencerminkannya.

“Jika STIE JB, tdk menghendaki wartawan meliput acara tersebut, harusnya disampaikan dengan baik kepada wartawan. Karena prinsipnya, setiap wartawan yang hadir dalam satu acara formal pasti atas tugas dari pimred atau redpelnya melalui undangan yang dikirim satu lembaga atau instansi bersangkutan ke media masing-masing,” terangnya.

Dikatakan Misba, jika undangan hanya untuk pimpinan media guna menghadiri acara tersebut maka sepantasnya diberikan catatan khusus, bahwa undangan ini bukan untuk meliput.

“Kami semua sayangkan perilaku seperti ini. Di era keterbukaan informasi saat ini.  Ternyata masih ada yang bersikap demikian,” sesalnya.

Lebih jauh dikatakan pimpinan media siber lainnya bahwa, Perguruan Tinggi dimanapun haruslah menjadi garda terdepan dalam menjalankan fungsi tanggung jawab sosial, apalagi ini eranya teknologi digital yang apapun itu pasti akan menjadi konsumsi publik.

Hal itu disampaikan Pimpinan Redaksi Tabaos14, Yohanis Nussy. Menurutnya, akademisi seharusnya lebih paham dan mengerti peran dan tugas pokok wartawan dibandingkan masyarakat awam.

Jika tidak berkenan maka harus ada penjelasan profesional yang lebih elegan. Apalagi kehadiran wartawan karena diundang. Ia menegaskan bahwa, wartawan tidak akan mengemis hanya untuk sebuah berita.

“Kan kampus ngerti Undang-undang Kebebasan Informasi Publik, jadi apa juga yang mau ditutupi. Kalau alasan karena pakaian atau penampilan wartawan, itu jelas sangat privacy, meski kita tahu kalau para wartawan itu datang dengan setelan yang rapih dan tidak kurang,” ujarnya.

“Atas kejadian ini, saya selaku organisasi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) wilayah Papua mengajak pimpinan PT yang bersangkutan, marilah lebih mengerti, terbuka terhadap kinerja profesional jurnalistik. Suka atau tidak bahkan cepat atau lambat, kalian dan kita semua butuh kerja kerja jurnalistik ini. Apa yang salah? jadi mari sama-sama profesional untuk kemajuan Mimika dan Papua,” ungkap Sekjend AMSI Papua yang jug akrab disapa Sam Nussy.

Sementara Pimpinan BeritaMimika, Ronald Renwarin menyayangkan pelaksanaan wisuda yang dilakukan STIE Jembatan Bulan karena tidak mengindahkan larangan Pemerintah Daerah Mimika untuk tidak melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang.

“Lucu saja, apakah memang mereka tidak tahu sama sekali tentang adanya himbauan pemerintah daerah tentang larangan banyak orang berkumpul karena virus corona? Atau sudah tahu, tapi masa bodoh dan diabaikan? Seharusnya mereka lebih mengerti dan memahami kondisi Mimika saat ini,” ungkapnya.

Ia mempertanyakan, hal apa yang mendasari pemikiran dosen tersebut sehingga ketiga wartawan diusir saat melakukan peliputan. Justru sebuah kebanggan bagi mahasiswa, orangtua maupun keluarganya jika keberhasilan mereka dipublish di media.

“Kampus-kampus besar di Indonesia bahkan dunia, acara temu kangen alumni atau silahturahmi saja mereka ingin diliput. Apa yang disembunyikan di acara itu, sehingga tidak boleh diliput? Ini wisuda loh, ada kebanggaan lebih di momen ini, ketika dipublish di media. Kita semua merasakan itu karena kita juga pernah wisuda,” ujarnya.

Ia memahami bahwa larangan tersebut hanya dilakukan oleh oknum yang tidak mewakili semua mahasiswa dan dosen di STIE Jembatan Bulan, namun ia berharap, kejadian ini jangan lagi terulang.

“Kami sudah bahas ini secara internal diantara pimpinan semua media di Timika. Kita akan pelajari proses hukumnya karena kami memang tidak main-main dengan kejadian seperti ini. Kita berharap, pihak JB memberikan klarifikasi terhadap tindakan dosen mereka, jika tidak kami akan lakukan langkah hukum agar menjadi pembelajaran bagi semua masyarakat Mimika. Negara saja begitu menghargai keberadaan wartawan, masa seorang dosen tidak bisa melakukan hal serupa?,” tegasnya. (Tim Media di Timika)

Pos terkait