Masyarakat Mimika Lebih Waspada TBC Daripada Corona

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Reynold Ubra.

 

TIMIKA – Tabaos14    I     Akibat kasus virus corona yang telah masuk di Indonesia membuat warga Indonesia mulai waspada, seperti yang terjadi di Mimika. Warga mulai memborong masker sebagai stok untuk antisipasi menyebarnya virus tersebut.

Bahkan akibat dari itu, banyak apotek-apotek di Timika mulai kehabisan stok karena masyarakat banyak yang membeli dengan jumlah yang banyak.

Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Reynold Ubra menghimbau agar masyarakat tidak perlu kuatir dengan virus corona, yang perlu dikuatirkan adalah TBC dan malaria.

“Mestinya di Timika jangan orang kuatir dengan corona virus, takutlah dengan TBC karena virus corona tidak mudah membunuh orang sebab itu tergantung juga imunitas tubuh. Tapi, ketika kita berhadapan dengan penderita TB yang resisten karena penularan itu sama melalui airbon maka kita akan terinfeksi, kemudian disuntik selama 12 bulan. Jadi, mestinya masyarakat Mimika memilih jangan terkena TB resisten dan juga malaria,” tutur Reynold Ubra saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (04/03).

Menurutnya, masyarakat juga jangan hanya membeli masker tetapi beli juga liserin untuk mencuci tangan. Kemudian, etika batuk juga perlu diperhatikan dengan baik.

Lanjutnya, kalau masker tidak ada atau tidak tersedia di apotek maka yang perlu dilakukan adalah menghindari atau jangan berdekatan dengan orang yang lagi batuk pilek. Jangan bertatap muka kurang dari satu meter, tidak berciuman, tidak jabat tangan.

Dijelaskannya juga, cara menghindari penyakit-penyakit respiratori yang disebabkan melalui saluran nafas itu menghindari orang yang batuk pilek, menjaga imunitas tubuh, dan menjaga kebersihan tangan.

“Menggunakan masker itu bagus, masker yang habis itu saya pikir kesadaran masyarakat tentu saja karena masyarakat saat ini khususnya di Mimika sangat mudah mengakses informasi sehingga muncul kesadaran. Ini yang diharapkan,” tutur Reynold.

Dikatakannya, kadang-kadang momen seperti ini contoh mers tahun 2012, sars, itu kan penyakit-penyakit respiratori. Di pelabuhan udara, pelabuhan laut sudah menjamin itu, sekarang saat masuk kemana-mana. Baik berangkat maupun datang tim dari kantor kesehatan di pelabuhan itulah, tim terpadu sudah melakukan pemeriksaan suhu tubuh karena screaning yang paling mudah.

Reynold menghimbau, agar warga Mimika tidak usah takut orang yang terinfeksi virus corona. Namun kewaspadaan dini ini harus dibangun dari diri sendiri. Kondisi di Uhan pada bulan Desember itu suhunya lagi seperti apa. Tapi, kalau datang ke Timika dengan suhu yang hampir 40 derajat, kalau lihat kondisi tahun ini kan suhu permukaan bumi naik satu derajat dan dimana-mana terjadi perubahan iklim menjadi lebih panas. Sehingga, masyarakat tidak perlu terlalu kuatir, yang harus dikuatirkan di Timika ini adalah malaria dan TB resisten.

Katanya, kalau apotek menaikkan harga masker itu adalah privat bisnis tetapi bagaimana dengan stok di Dinkes. Itu stoknya masih ada tetapi itu bukan untuk apotik, melainkan untuk semua penyakit respiratori, untuk petugas di gudang obat.

“Mencegah kovit itu yakni cuci tangan, yang paling pertama adalah hindari dari orang yang batuk pilek karena tanda gejalanya adalah itu. Jaga imunitas, istirahat cukup, makan teratur, olahraga teratur minimal sehari 15 menit,” ungkapnya. (*#/samone)

Pos terkait