Kejari Mimika Hentikan Kasus Penganiayaan Oknum Pelajar Dengan Restorative Justice

Kajari Mimika Sutrisno Margi Utomo melepas rompi tahanan yang menandakan tersangka bebas dan kasusnya dihentikan.

Timika – Tabaos14 | Kejaksaan Negeri Mimika melakukan restorative justice terhadap kasus oknum pelajar atas nama tersangka Alexander Metemko yang disangkakan melakukan penganiayaan yang diatur dalam pasal 351 ayat 1 KUHP terhadap korban Fiqar Aldiano.

Penghentian kasus dengan restorative justice tersebut ditandai dengan pelepasan rompi tersangka oleh Kajari Mimika Sutrisno Margi Utomo, yang disaksikan oleh Dandim Mimika dan orang tua tersangka di kantor Kejari Mimika, Kamis (14/7/2022).

Kajari Mimika Sutrisno Margi Utomo, pembebasan Alexander setelah melalui proses restorasi justice yang disetujui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum dengan dasar pertimbangan yang matang dan atas kesepakatan, Kemufakatan kedua pihak. Pasalnya sesuai aturan penerapan restorative justice harus melalui persetujuan Kejagung.

“RJ memang diperuntukan bagi orang miskin, untuk rakyat kecil, biar tidak terkesan hukum tajam ke bawah tumpul ke atas,” ungkapnya.

Menurut Kajari proses penegakan hukum melalui pendekatan keadilan restorative justice dalam penyelesaian perkara tindak pidana yang dilakukan Kejaksaan mengacu pada Perja No.15 Tahun 2020 , definisi keadilan Restoratif yaitu penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.

“Penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restorative dilaksanakan dengan asas keadilan, kepentingan umum, proporsionalitas, pidana sebagai jalan terakhir , cepat sederhana dan biaya ringan,” tuturnya.

Selain itu, kata Dia, kebijakan restorative justice Melalui Peraturan Jaksa Agung (Perja) No.15 Tahun 2020 yang diundangkan pada tanggal 22 Juli 2021 diharapkan mampu menyelesaikan perkara tindak pidana ringan (Tipiring) selesai tanpa harus ke meja hijau.

Kajari mengungkapkan sejak dikeluarkannya Perja itu, sudah 300 perkara telah dihentikan Jaksa di seluruh tanah air, Dikeluarkannya Perja ini untuk merestorasi kondisi ke semula sebelum terjadi “kerusakan” yang ditimbulkan oleh perilaku seseorang (tersangka).

“Syarat-syarat bagi orang yang “berhak” menerima restorative justice yaitu pertama tindak Pidana yang baru pertama kali dilakukan. Kedua kerugian di bawah Rp 2,5 juta. Ketiga adanya kesepakatan antara pelaku dan korban dan keempat masa hukumannya dibawah lima tahun,”ungkapnya.

Kajari menambahkan, kami juga mencoba untuk meminimalisir over capacity Lapas yang menjadi momok bagi Lapas di Indonesia. Selain itu, muatan Perja ini juga terkandung untuk meminimalisir penyimpangan kekuasaan penuntutan serta memulihkan kondisi sosial secara langsung di masyarakat.

“Ini juga menjadi salah satu kebijakan dalam menjawab keresahan publik tentang hukum tajam ke bawah, namun tumpul ke atas yang selama ini seolah menjadi momok menakutkan bagi masyarakat kecil,”ujarnya.

Adapun kronologi dari kasus tersebut adalah peristiwa itu bermula pada hari Jumat tanggal 6 Mei 2022 sekitar pukul 09.00 WIT di Asrama Kodim 1710 Mile 32, Distrik Kuala Kencana. Saat itu tersangka Alexander Metemko dipengaruhi minuman keras pergi ke rumah saudara Nikodemus Imbiri (tetangga tersangka) untuk makan bersama dengan Luther (anak Nikodemus). Di tempat itu ia bertemu korban Fiqar Aldiano.

Sempat terjadi keributan antara tersangka dan korban sehingga tersangka yang dalam pengaruh minuman keras melakukan pemukulan kepala korban sebanyak dua kali. Selanjutnya, tersangka yang masih dalam keadaan emosi, memukul korban mengenai bagian siku hingga mengakibatkan luka robek.

Pada tanggal 30 Mei 2022 berdasarkan hasil Visum Et Repertum No: 353/596 yang dikeluarkan oleh RSUD Mimika, hasil pemeriksaan korban Fiqar Aldiano yang diperiksa dan ditandatangani oleh dr Chaudry Franciosa Luwunaung dengan kesimpulan telah dilakukan pemeriksaan seorang laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun dan pada pemeriksaan didapatkan luka robek di siku kiri yang mana tidak memerlukan perawatan khusus dan sekarang telah dalam keadaan sembuh.

Pos terkait