HDII Papua Gelar Webinar Karya Budaya Papua Dalam Arsitektur Argo: Wujudkan interior dan arsitektur Yang Modern Dengan Nilai-Nilai Kehidupan Lokal

  • Whatsapp
webinar HDII Papua

Timika – Tabaos14 | Himpunan Desainer Interior Indonesia atau (Indonesia Society Of Interior Designer) Papua, Rabu (22/9/2021) menggelar webinar terkait Karya Budaya Papua dalam Arsitektur dan Interior sebagai sebuah pengantar menuju bedah karya.

Webinar tersebut mengusung tema besar “bedah karya arsitektur dan interior Papua tahun 2021”, dengan menghadirkan narasumber, Y. Argo Twikromo, Ph.D, yang merupakan Dosen Antropologi Universitas Atmajaya Yogyakarta, Anggota Dewan Kebudayaan DIY periode 2020-2022, Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), Indonesia sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan Dr. Simon Abdi K. Frank, M.Si. Dosen Antropologi Universitas Cendrawasih Anggota Tim Pakar Komunitas Adat Terpencil.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Ketua HDII Papua, Ar. Bernard Harianja, IAI, HDII, IAP, AE BNSP mengatakan, kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh HDII Papua bertujuan untuk mengevaluasi dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para arsitek dan design interior dan seprofesinya agar bisa merancang struktur yang lebih baik lagi dari designer-designer sebelumnya.

“Tujuan kami sederhana hanya ingin membantu para arsitek interior dalam mengevaluasi kinerja bangunan hasil karya-karya mereka ditengah-tengah masyarakat sekaligus memberikan pembelajaran kepada praktisi dan akademisi design interior dalam menciptakan karya-karya terbaik pada hari-hari berikutnya,” kata Bernard.

Tentunya ada manfaat yang didapat dari webinar tersebut, baik dari sisi analisis designer dalam melakukan tugas praktek, sementara itu dari sisi akademisnya hal tersebut bisa dijadikan sebagai materi pembelajaran pada lembaga pendidikan tinggi.

“Sebagai bahan pertimbangan evaluasi atau analisis bagi para arsitek dan designer interior dalam melakukan tugas praktek profesinya secara integrasi, sementara untuk manfaat akademiknya, akan diterima oleh anggota tim review, kemudian dapat dikembangkan dalam akademis” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum IAI Pusat, I Ketut Rana Wiarcha mengatakan, Webinar tersebut merupakan suatu kolaborasi yang sangat baik guna memberikan pemahaman bahwa perbedaan merupakan suatu hal yang perlu dijaga.

“Ini menjadi agenda yang terus menerus digelorakan dari provinsi ke provinsi di seluruh Indonesia. Artinya kolaborasi bukan sebagai kompetisi, tetapi kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu yang saling mendukung,” kata Ini Ketut Rana.

Pada kesempatan yang sama, Ketua HDII Pusat, Rohadi mengatakan, kegiatan webinar dalam bidang arsitek dan interior harus terus dilakukan sehingga bisa memberikan manfaat bagi siapa saja dalam membangun sebuah kontruksi bangunan.

Rohadi juga menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang mendukung program webinar tersebut mulai dari sponsor dan media partner. Diantaranya, onduline, munir, ARCH Deco, Bulir, HDII Jawa Tengah, HDII Papua, HDII Indonesia, HDII Sumut, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Modern Arsitektur dan Teknologi, Keluarga Kamajaya Jogjakarta-Papua, HT, Persatuan Insinyur Indonesia Bolaang Mongondow, dan beberapa sponsor lainnya, dan media online Liputan Papua, SKH Timika eXpress dan media online Berita Mimika yang telah berpartisipasi sehingga webinar tersebut boleh dilaksanakan.

“Acara ini sangat bermanfaat untuk kita semua, sehingga perlu keseriusan, partisipasi dan dukungan dari semua pihak” kata Rohadi.

Ia berharap, kedepan, kegiatan tersebut harus diagendakan secara rutin, sehingga bisa memberikan support kepada dunia pendidikan, pemerintah, dan kalangan profesional di bidang arsitektur dan interior.

“Kami berharap kepada semuanya bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini harus selalu dimaintenance atau dipelihara agar rutin ddilaksanaka,” harapnya.

Dalam pemaparannya, ditekankan beberapa point dari, Y. Argo Twikromo, Ph.D, berkaitan dengan interior dan arsitektur dalam mewarnai nuansa keharmonisan kehidupan di Papua, perlu dilihat dari aspek sosial, budaya secara luas serta pemahaman kebudayaan secara statis dan dinamis.

Argo menjelaskan, perlu ada pemahaman antara kehidupan saat ini jika dikaitkan dengan realitas kehadiran kehidupan modern dengan kehidupan dalam konteks lokal Papua, sehingga dalam mewujudkan desain interior dan arsitektur tidak hanya mengacu kepada perkembangan ilmu pengetahuan tetapi perlu ditambahkan dengan nilai-nilai kehidupan lokal.

Sementara itu, Dr. Simon Abdi K. Frank, M.Si. mengatakan, yang perlu dilihat saat ini ialah arsitektur Papua berbasis budaya dari masa lalu, sekarang dan masa depan sehingga menjadi pertimbangan kedepan.

“Intinya apapun karya arsitektur dan interior itu selalu keluar dari hasil-hasil karya pemikiran dari sebuah kebudayaan yang dimiliki sehingga apapun yang dihasilkan itu sebuah karya karya yang memiliki karakteristik,” kata Dr Simon.

Lanjut Simon, arsitektur Papua dapat ditelusuri melalui evolusi kebudayaan, karena terdapat banyak peninggalan yang menunjukkan bahwa Papua sudah memiliki arsitektur dan desain melalui arkeologi yang ditemukan.

Salah satu arsitektur rumah-rumah adat dari 7 wilayah adat, yaitu, Ha Anim, Mamta, Saireri, La Pago, Mee Pago, Domberai, dan Bomberai. Arsitektur rumah tersebut yang dibuat berdasarkan karakteristik wilayahnya.

“Jadi prinsipnya masyarakat etnis di Papua sudah melakukan kegiatan-kegiatan arsitektur walaupun sifatnya sederhana pada masa-masa neolitik. Nah ini bisa dilihat dari penemuan-penemuan,” ungkapnya.

Dalam webinar tersebut, diikuti oleh perwakilan HDII pusat, HDII daerah cabang Jateng, HDII cabang Sumut, sementara dari IAI diikuti oleh, IAI nasional, IAI Nangro Aceh Darusalam (NAD), IAI Riau, IAI Jambi, IAI Sulwesi Utara (Sulut), IAI Sulawesi Barat (Sulbar), IAI Bekasi.

Pos terkait