Cegah Penyebaran PMK Mimika Batasi Pengiriman Hewan Ternak dari luar

Kepala Kantor Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Timika Tasrif.

Timika – Tabaos14 | Untuk mencegah Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak saat ini sedang marak menyebar di beberapa daerah di Indonesia, Kabupaten Mimika melalui Kantor Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Timika dan Dinas Peternakan membatasi pengiriman hewan ternak dari luar Timika

“Mimika belum ada. Kami belum temukan penyakit itu. karena saat ini lalu lintas hewan ternak dari luar Mimika sedang dibatasi,”kata Kepala Kantor Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Timika, Tasrif kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (26/7/2022).

Dia menyampaikan, berdasarkan surat terbaru yang dikeluarkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Mimika per tanggal 20 Mei 2022, disampaikan bahwa hanya tiga wilayah yang diperbolehkan mendatangkan hewan ternak ke Mimika, yakni Merauke, Kerom, dan Nabire.

“Seyogyanya pun kalau mau melakukan pengiriman hewan ternak ke Timika, harus disertai juga dengan pemenuhan persyaratan, seperti surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari daerah asal, kemudian juga rekomendasi dari Dinas terkait daerah setempat,” jelasnya.

Untuk itu, Tasrif mengimbau kepada masyarakat yang ingin mendatangkan hewan ternak dari luar Mimika diharapkan melapor kepada pihaknya.

“Kami harap masyarakat bisa melaporkan ke kami supaya ini clear biar kita tidak terdampak PMK. Kita harus betul-betul bersinergi dengan setiap instansi terkait,” pungkasnya.

Tasrif mengungkapkan dalam upaya pencwgahan tersebut pihaknya menahan 113 ekor sapi tanpa dokumen yang terjadi pada awal Juli dari Tual Maluku ke Timika. Masalah tesebut dilimpahkan ke pihak Polres Mimika.

“Sapinya masih ditahan sampai hari ini di kandang di belakang kantor pengadilan agama Jalan Yos Sudarso. Sudah dikasih tanda Police Line juga,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh Sabelina Fitriani saat dihubungi via telepon pada Selasa (26/7/2022) menjelaskan, pihaknya melakukan pelarangan mendatangkan hewan ternak dari luar dengan tujuan mengcegah masuknya penyakit-penyakit yang tengah mewabah pada hewan.

“Sebelumnya kami izinkan Sorong juga. Tapi setelah itu kami larang karena hewan ternak yang ada di Sorong itu kebanyakan dari Maluku. Sementara di Maluku itu kasus penyakit brucellosis pada sapi sangat tinggi,” katanya.

Di samping itu ternak yang ada di Sorong pun, kata Sabelina, belum ada hasil pemeriksaannya yang terkait dengan PMK.

“Itu yang dikhawatirkan, karena kan kalau transit begitu kalau dia dari daerah lain kan gak jelas penyakitnya. Apalagi sekarang lagi waspada juga, provinsi Papua statusnya itu siaga jadi ya kita antisipasi,” pungkasnya.

Pos terkait