Buntut Obat Anak di Campur Gula Ini Tanggapan Loka POM Mimika dan Dinkes Provinsi Papua

Suasana jumpa pers bersama Loka POM, Dinkes Provinsi Papua dan klinik serta keluarga pasien yang di fasilitasi oleh Dinkes Mimika di hotel Grand Tembaga, Jumat (21/7/2022).

Timika – Tabaos14 | Buntut dari kejadian obat racikan (Puyer) yang diberikan oleh salah satu klinik di Mimika untuk anak yang dicampur dengan gula yang dikira serpihan kaca oleh orang tua pasien, Loka Pengawasan Obat dan Makanan ( POM) Mimika bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika dan Provinsi Papua memberikan tanggapan terkait kasus dan keamanan dari kandungan obat tersebut.

Penyampaian tersebut dilakukan dengan menggelar jumpa pers bersama awak media di hotel Grand Tembaga, Jumat (21/7/2022) yang difasilitasi oleh Dinkes Mimika yang juga di hadiri oleh pihak Klinik dan orang tua pasien.

Kepala Loka POM Timika, Lukas Doso Nugroho mengatakan, hasil pemeriksaan Loka POM Timika tidak menemukan yang salah dengan obat puyer tersebut.

“Sesuai tupoksi kami, kami wajib turun atas kejadian ini, tugas kami melindungi masyarakat. Kami turun dengan tim dan meminta sisa obat yang diberikan dokter itu sisanya seperti apa, ternyata ada empat diantaranya ada paracetamol, dexametason, CTM, dan saat kami periksa kami tidak menemukan barang bukti pecahan kaca,” ujar

Lukas mengungkapkan saat pemeriksaan juga ada gula, namun secara hukum pihaknya tidak menemukan barang bukti kaca sehingga keluarga pasien sudah berdamai dengan dokter.

“Yang paling utama sebenarnya tidak terjadi apa-apa terhadap anak tersebut, jadi tidak ada masalah, itu yang terpenting. Anaknya masih sehat, bagi kita semua tentunya tetap akan menjamin keamanan obat yang beredar, dan dari obat tersebut resmi telah terdaftar di BPOM,”ungkapnya.

Sementara dari pihak Dinkes Provinsi Papua melalui plh Kabid Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Papua membidangi Alkes, Farmasi, Sumber Daya Manusia Kesehatan Dr drg Yohanes Tebai, MH Kes mengatakan setiap klinik dalam hal pendirian perlu memperhatikan beberapa hal, salah satunya dalam SOP sudah diatur pelayanan farmasi di klinik dan sudah keluar Permenkes tahun 2021 bahwa klinik harus mempunyai Apoteker.

“Dalam pelayanan kesehatan yang ditekankan adalah upaya, sekali lagi upaya, dan harus dilaksanakan sesuai dengan SOP yang ada, bukan hanya hasil tapi upaya langkah-langkah dan perlu disadari, dimengerti dan diterapkan. Ini masalahnya pada apoteker, sebuah klinik harus mempunyai apoteker,”kata Yohnaes.

Menurutnya di dalam SOP apabila dilakukan pelayanan obat bisa dilakukan mandiri jika di wilayah itu tidak ada apoteker.

“Untuk kedepannya dalam pelayanan harus sesuai SOP, perlu dilihat dan dilaksanakan dengan seksama, semua pasti ada kesalahan dalam pelayanan tapi paling tidak kita sudah berupaya,”tuturnya.

Yohanes menekankan, hal yang perlu diperhatikan yakni komunikasi dan etika dalam profesi yang harus dijaga supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Komunikasi itu tidak boleh dilupakan, kejadian kemarin seharusnya dokter bisa komunikasi pada pasien bahwa supaya tidak terlalu pahit saat minum obat maka obat dicampur gula supaya pasien bisa minum obat, kan simpel,”tegasnya.

Sementara Kepala Dinkes Mimika Reynold Ubra mengatakan, selaku pemerintah Dinkes menilai kejadian tersebut merupakan suatu pembelajaran dan tidak boleh terulang kembali dan kepada fasilitas kesehatan baik swasta milik pemerintah dalam memberikan pelayanan harus dengan berhati-hati dan teliti.

“Dari sisi pemerintah kami untuk tetap melakukan pengawasan secara ketat kepada seluruh fasilitas kesehatan baik milik swasta maupun milik pemerintah,”ungkap Reynold.

Pos terkait