Berkas Kasus Pelaku Pelecehan Seksual di SATP Dikembalikan Ke Jaksa Untuk Diteliti

  • Whatsapp

Timika – Tabaos14| Berkas perkara kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh DFL (30) terhadap puluhan siswa di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) di kembalikan ke jaksa untuk diteliti.

Berkas perkara tersebut dikembalikan setelah permintaan dari pihak Kejaksaan untuk melakukan uji sempel terhadap salah satu korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh DFL guna melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP)

Bacaan Lainnya

Kasat Reskrim Polres Mimika AKP Hermanto saat ditemui di Kantor Pelayanan Polres Mimika mengatakan bahwa sebelumnya pihak telah menyerahkan berkas tahap satu kasus tersebut kepada pihak Kejaksaan Negeri Timika.

Dari pihak Kejaksaan Negeri Timika, berkas tahap satu tersebut dikembalikan kepada pihak kepolisaan dan meminta kepada pihak kepolisian untuk melakukan tes sempel secara medis oleh dokter terhadap salah satu korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh DFL di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP).

“Kemarin jaksa minta sempel pemeriksaan salah satu korban. Dokter sudah melakukan pemeriksaan dan sekarang berkas tahap satu dikembalikan lagi ke jaksa untuk diteliti oleh jaksa,” kata Hermanto.

DFL (30) diciduk polisi karena melakukan kekerasan fisik dan pelecehan seksual terhadap 25 orang anak di SATP. DFL diamankan di rumah keluarganya di jalan Budi Utomo Ujung SP 1 pada awal Maret 2021

Adapun modus yang dilakukan pelaku dalam melaksanakan aksi bejatnya tersebut adalah dengan mengajak korban ke kamar mandi, kemudian tersangka melakukan pencabulan dan pelecehan seksual terhadap korban. Tersangka melakukan hal itu karena sering memandikan para korban.

Aksi bejat tersangka sudah berlangsung sejak bulan November 2020. Tersangka direkrut pihak yayasaan dan bekerja di Asrama Taruna Papua sejak Januari tahun 2020.

Rata-rata korban kasus pelecehan seksusal dan kekerasan fisik adalah anak-anak berusia 6-13 tahun. Dari 25 korban hampir seluruhnya anak laki-laki dan hanya 1 anak perempuan.

Akibat perbuatannya tersebut DFL dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 5 sampai 15 tahun, ditambah sepertiga dari hukuman tersebut sehingga menjadi 5 sampai 20 tahun.

Reporter : Nay
Editor : Tahir

  • Whatsapp

Pos terkait