BBKSDA Sumut Pulangkan 15 Satwa Endemik Ke Mimika

BBKSDA saat bersama PTFI dan sejumlah pihak lainnya, usai acara penyerahannya.

TIMIKA – Tabaos14    I     Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara (Sumut), Senin (02/03) memulangkan sebanyak 15 satwa endemik Papua ke habitat aslinya yang ada di Kabupaten Mimika.

Pemulangan satwa endemik Mimika tersebut didukung PT Freeport Indonesia (PTFI), dengan memfasilitasi penyerahan secara simbolis dari BBKSDA Sumut kepada BBKSDA Provinsi Papua yang dilakukan di area Departemen Enviromental PTFI yang terdapat Mile 21.

Satwa endemik yang dipulangkan tersebut sebanyak 15 ekor satwa liar yang dilindungi yang terdiri dari (tiga) 3 ekor Cenderawasih kuning besar, (dua) 2 ekor Nuri kepala hitam, (sembilan) 9 ekor Kakatua jambul kuning, dan (satu) 1 ekor Nuri Bayan. Setelah diserahkan kepada BBKSDA Papua, satwa itu, sebelum di lepas liarkan ke habitatnya terlebih dahulu di karantina di kandang milik Departemen Enviromental PTFI. Tujuannya, untuk mengembalikan sifat aslinya dan selanjutnya akan dilepas liarkan.

Lima belas ekor satwa dilindungi tersebut merupakan barang bukti penegakan hukum dibidang konservasi sumber daya alam dan ekosistem dari Kepolisian daerah Sumatera Utara, Balai Gakkum LHK Sumatera, Balai Karantina Pertanian kelas II Medan, dan Bea Cukai tipe Madya Belawan pada kurun waktu tiga tahun terakhir, yang dititip rawatkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit Sumatera Selatan.

Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si dalam sambutannya menegaskan bahwa, sinergisitas para pihak dalam upaya perlindungan dan peredaran satwa liar dilindungi yang telah dibangun saat ini, terus akan diperkuat. Sehingga ke depannya, kegiatan ilegal peredaran satwa liar dilindungi seperti ini dapat diminimalisir dan kelestarian satwa endemik Papua dapat terus terjaga.

“Seperti diketahui bersama bahwa satwa-satwa tersebut merupakan satwa endemik Papua yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/Menlhk/Setjen/KUM.1/12/2018 tentang Jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi,” tegasnya.

Edward menjelaskan, pemanfaatan dan peredaran illegal satwa liar dilindungi melanggar Pasal 21 UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jadi, dihimbau Kepala Bidang KSDA Wilayah I BBKSDA Papua, masyarakat luas agar tidak menangkap, memelihara atau memperdagangkan satwa liar dilindungi demi kelestarian keanekaragaman hayati di Tanah Papua.

“Khusus Cenderawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda) merupakan salah satu dari beberapa spesies burung cenderawasih yang hanya hidup di dataran rendah Pulau Papua bagian Selatan,” jelasnya.

Sementara mewakili Kepala BBKSDA Sumut, Irzal Azal dalam sambutannya mengatakan, pihaknya berharap ke depan tidak ada lagi satwa-satwa asli Papua, khususnya di Kabupaten Mimika yang diselundupkan sampai ke Sumatera.

Pihaknya berharap, satwa-satwa yang di kembalikan tersebut dapat kembali bebas di habitatnya dan dapat kembali berkembang biak dengan baik, sehingga tidak terancam dari kepunahan.

“Semoga dengan memulangkan satwa-satwa dari Papua tersebut, satwa-satwa itu bisa surfive kembali dan kita juga bisa selalu melakukan upaya-upaya konservasi. Sehingga, menyelamatkan satwa yang dilindungi tersebut dari kepunahan.

Selanjutnya Manager Departemen Enviromental PTFI, Gesang Setiadi mewakili menejemen PTFI dalam sambutannya menuturkan bahwa, Freeport sebagai bagian dari Kabupaten Mimika ikut bertanggung jawab memastikan dan membantu upaya-upaya konservasi yang ada di Papua.

Selanjutnya, pihaknya merasa mendapatkan kehormatan karena dipercaya untuk dititpi satwa yang dipulangkan tersebut untuk di karantina terlebih dahulu sebelum dilepas liarkan.

“Atas nama Freeport, kami menyampaikan banyak terima kasih atas dukungan, kerjasama serta kepercayaan untuk diperkenankan membantu proses melepas-liarkan hewan-hewan sitaan yang dipulangkan dari Sumatera tersebut,” ungkap Gesang.

Satwa-satwa endemik tersebut diantar langsung oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama Balai Gakkum LHK Sumatera Utara, Kejaksaan Negeri Medan serta Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan Penyerahan satwa liar dilindungi ini disaksikan Perwakilan Pemerintah Provinsi Papua (Dinas Pertanian dan Pangan Provinsi Papua), Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Mimika). Ternasuk Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Timika, Cabang Dinas Kehutanan Mimika, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Unit VI Mimika, Taman Nasional Lorentz, PT. Freeport Indonesia, USAID Lestari dan Masyarakat Kota Timika dan PT. Freeport Indonesia. (*#/samone)

Pos terkait