Akademisi : Sejak COVID-19 Melanda Banyak Perilaku Masyarakat Yang Berubah

  • Whatsapp

TIMIKA – Tabaos14 | Sejak pandemik COVID -19 melanda dunia hingga saat ini, banyak pandangan bebas yang lahir dari beberapa pihak, Akademisi, Praktisi maupun masyarakat yang membahasnya dengan banyak sudut pandang dan konteks. Hal ini menyebabkan orang menjadi takut dan merasa tidak aman (insekuritas), sehingga ada dampak negatif namun ada juga dampak positifnya.

Akademisi, Jimmy Rungkat menuturkan bahwa sejak COVID -19 melanda dunia dan khususnya Kabupaten Mimika, banyak perilaku masyarakat yang berubah. Hal tersebut mulai dari perilaku privat di domestik (rumah) hingga perilaku sosial-budaya.

Muat Lebih

“Sejak pandemik ini kan, orang mulai sering tinggal di rumah. Padahal dulu intensitas orang keluar rumah tinggi, hal ini menyebabkan kekerabatan di dalam rumah tiap individu semakin baik. Dulu orang banyak bekerja dan jarang ketemu keluarga, sekarang keadaan itu terbalik. Ini secara global, ya,” tuturnya saat ditemui Tabaos14 di ruang kerjanya, Jumat (19/6)

Sekalipun dalam sejarah manusia, evolusi sosial-budaya dalam struktur masyarakat di dunia pada umumnya butuh waktu bertahun-tahun, itupun masih dalam tahap adaptasi. Namun menurutnya, karena manusia merupakan Homo Deva atau punya kemampuan adaptasi yang lebih dari mahkluk lain, sehingga setiap tantangan masa termasuk pandemik, tentu saja dapat dilalui melalui inovasi dan kreasi yang dikerjakan manusia. Sehingga menurutnya, protokol kesehatan yang digunakan saat ini pun merupakan tindakan inovasi dari manusia untuk dapat bertahan hidup.

“Misalnya harus memakai masker jika ingin kontak langsung dengan orang lain, mencuci tangan setiap saat serta menjaga jarak fisik saat sedang berada di tempat umum. Ini memang mengubah kebiasaan manusia secara individu juga komunitas, kalau tidak diberlakukan demikian, lalu apakah ada solusi lain yang dipikirkan para ahli yang bertentangan dengan ini? Tentu saja tidak, saya rasa. Sehingga kepentingan saat ini adalah bagaimana agar umat manusia dapat terus berkelanjutan, kan begitu visinya,” tuturnya.

Hal inilah yang membuat kebijakan yang diambil Pemerintah, baik pusat maupun di Kabupaten Mimika sudah tepat. Untuk Kabupaten Mimika, terkait penolakan individu dan komunitas terhadap beberapa kebijakan yang diputuskan oleh Pemerintah Kabupaten Mimika merupakan hal yang terjadi di hampir separuh dunia.

“Kita lihat, untuk mengubah perilaku masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah saat ini di Timika saja butuh beberapa kali PSDD. Karena setiap individu tentu saja butuh adaptasi dengan perilaku yang baru. Tapi kita lihat dampaknya saat ini, jumlah orang yang kena Malaria menurun, begitupun dengan TB. Tidak bermaksud masuk ke konteks kesehatan, ini pun sebatas observasi awal saya, tapi kalau boleh saya katakan, Malaria dan TB merupakan subkultur kita saat ini. Ini wilayah endemis terhadap kedua penyakit tersebut, kita sudah lama hidup dengannya karena ada perilaku dan budaya lama yang mendukung penyebaran penyakit itu,” tegasnya. (Yondri)