Potensi Tepung Sagu Kokonao Dalam Pergumulan Pengembangannya

TEPUNG SAGU sepertinya layak dijadikan salah satu primadona potensi sumber daya lokal Kampung Kokonao di Distrik Mimiks Barat, Kabupaten Mimika seperti yang diakui , Maria Ema Harewan saat dijumpai di Halaman Jemaat GKI Imanuel Kokonao, Rabu (18/12) sore.

“Kami membuat Tepung Sagu ini sendiri-sendiri dan masih harus secara manual, sehingga masih mampu menghasilkan tiga (3) Kilogram dalam seminggu. Penjualannya juga masih terbatas di Kokonao ini kepada kaum ibu yang membutuhkannya untuk membuat kue-kue, ” cerita Maria Ema Harewan yang mengaku sudah mengerjakan potensi Tepung Sagu ini cukup lama di Kokonao.

Sebagai bagian dari anggota Persekutuan Wanita GKI Imanuel Kokonao, Maria Ema Harewan yang sempat memberikan Tepung Sagu hasil kerjanya di Minggu ini kepada salah satu Anggota Komisi Pekabaran Injil (PI) GKI Mimika, Pnt Johana Arwam Nussy mengakui, seandainya saja ada dukungan pemerintah maupun sesama Jemaat GKI lainnya di Timika Kota maka upaya yang dilakukan ini bisa disinergikan bersama.

Alasannya, karena selama.ini dirinya menekuni produksi tepung sagu ini dengan cara manual. “Sagu harus dipilih yang baik dan harus di ‘tokok’ (diolah) sendiri, dijemur, diayak atau ditapis dan dijemur lagi sampai menghasilkan tepung sagu yang baik. Itulah yang membuat hasil produksi yang bisa saya hasilkan juga menyesuaikan dengan kondisi, ” cerita Maria Ema Harewan.

Bahkan, masih menurut Nyonya Harewan, kalau mau saja, satu ‘tumang’ (ukuran untuk sebongkah sagu mentah yang sudah di tokok dari pohon-red) itu, sebenarnya bisa dihasilkan sekitar 20 kilogram tepung sagu.

Jadi, akunya lagi, untuk bisa menghasilkan produk tepung sagu dalam jumlah yang banyak. Dirinya bersama sesama produsen (pengelola) dapat mencapainya dengan cara menyewa mesin olah, yang kebetulan ada dimiliki salah satu warga di Kokonao ini.

“Hanya saja biaya sewanya Rp50.000,- untuk sekali penggunaan untuk berapa pun jumlah produk tepung sagu yang mau dihasilkan. Jadi kita harus antre sepanjang hari juga, ” jelas Maria Ema Harewan.

Dari sisi peminat produk tepung sagu ini diakui Ema juga, sebenarnya cukup banyak dibutuhkan warga. Terutama sebagai bahan baku untuk membuat kue-kue seperti pada hari raya Natal ini.

Jadi, dirinya hanya bisa berharap ada bantuan ide maupun material bagi dirinya dan produsen lainnya di Kokonao dalam bidang produksi tepung sagu ini. Apakah itu dari pihak sesama Jemaat GKI di wilayah Kota, bahkan jika ada dari pemerintah, justru juga sangat diharapkan.

Saran dari Sekretaris Urusan Pekabaran Injil dari Jemaat GKI Lahairoy Kamoro Jaya, Johana Arwam Nussy, “Tidak berjanji hanya ini juga bisa menjadi pertimbangan bersama ke depannya. Tahap awal yang bisa dilakukan, bisa dengan membantu pemasarannya ke Kota Timika. Jadi kalau ada orang yang mau memesan boleh melalui kami di Timika, ” ajak Johana Arwam Nussy.

Ema Harewan juga bersyukur saran usul itu. Hanya tetap membutuhkan mesin pengelola nya demi meningkatkan upaya produksinya. (Samone)

Pos terkait